Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Jumat, 06 Januari 2012
Cara Mengedit Blog
Cara Mengedit Template Blog Agar SEO Friendly | Edit Blog Lebih SEO
Posted by allshare zone Sabtu, 24 Desember 2011 1 komentar
Incoming Terms : How To Make SEO Friendly Blogger / Blogspot | Cara Membuat Blog agar Seo Friendly di google | Cara Edit Blog Agar SEO Friendly | Seo Friendly Blogger Tutorial
Cara Edit template blog Agar SEO friendly | sahabat allshare zone yang super (wwkkkw,, niru mario teguh nih,,) kali ini allshare akan bagikan tutorial tantang Cara Edit template blog Agar SEO friendly , tentunya buat anda yang menginginkan template blognya seo friendly alias di sukai google. hehhe. Tapi sebelumnya apakah template anda yang sekarang sudah good looking ,maksudanya sudah cepatkah loadingnya atau sudah lengkapkah viturnya contoh title tag readmore dll,tapi jika memang belum anda bisa coba template yang say rekomendasikan untuk melihat tempaltenya silahkan cari artikel tentang Cara Edit template blog Agar SEO friendly di artikel terkait , di bawah ini.
Oke sekarang langsung aja ke pokok pembahasan yaitu cara membuat template 100% SEO friendly,silahkan ikuti langkah-lanhkah berikut :
1.Edit page title
Biasanya format page title dari blogger adalah seperti ini, JUDUL BLOG : JUDUL POSTING. Nah, agar blog kita lebih disukai oleh Google sehingga ujung-ujungnya blog kita jadi rame, kita harus merubah format page title standar itu menjadi seperti ini, JUDUL POSTING | JUDUL BLOG.
Caranya cari kode berikut ini di Edit HTML, cukup dengan menekan tombol Ctrl+F pada keyboard!
Kalo udah dapet kodenya, silakan Anda hapus dan ganti dengan kode berikut ini!
|
Atau Anda juga bisa tambahkan dengan beberapa kata kunci (keyword).
|
| KATA KUNCI ANDA | KATA KUNCI ANDA
Ganti kode "KATA KUNCI ANDA" dengan keyword yang Anda incar. Setelah semua selesai jangan lupa untuk save template.
2.pasang navigasi Breadcrumb
Bread crumb adalah sebuah menu navigasi yang ada diatas postinga atau artikel.Breadcrumb juga seringdipaakai oleh para master blog .karrena cara pasangnya breadcrumb cukup panjang ,saya pisahkan dalam sebuah postingan dan bisa anda lihat di kategori tutorial blogger / bisa di Related Posts di bawah artikel ini.
3.Pasang Related post
Related post sangat bagus untuk seo maupun untuk pengunjung,jadi wajib pasang related post di blog anda.caranya cukup panjang jadi say juga pisahkan dalm sebuah postingan yang anda bisa lihat di kategori tutorial blogger / bisa di Related Posts di bawah artikel ini.
4.Mematikan setting arshive
“Lho?”
“Buat apa?”
Begini, Google sangat membenci dengan yang namanya duplicate content. Jadi ketika kita mengaktifkan opsi blog arsip, misalnya kejadiannya seperti ini, Anda ingin membuat sebuah blog di blogger.com. Lalu membuat 3 posting, 1 buah setiap hari. Maka di halaman utama atau homepage Anda akan ada 3 posting dan sebuah link arsip seperti ini, http://BLOGANDA.blogspot.com/2007_03_01_archive.html, yang memunculkan 3 posting yang sama dengan yang dimunculkan oleh homepage. Intinya, 2 buah link yang memunculkan sebuah halaman yang sama. Bagi Search Engine apa lagi Google, ini adalah masalah serius. Oleh karena itu kita harus me-nonaktifkan opsi arsip.
Caranya, cukup klik tab Setting, pilih Archiving. Nah, pada bagian Archiving Frequency ubah menjadi No Archive. Selesai sudah! :)
5.Mengganti tg heading
Google sangat menyukai sebuah tulisan atau judul dengan tag H1. Oleh karena itu ubahlah ukuran judul posting Anda dengan tag H1. Caranya cari kode berikut!
Kode yang dicetak tebal dihapus dan diubah dengan tulisan h1. Setelah itu tambahkan kode berikut sebelum kode ]]>
h1.post-title, .post h1 #Blog1 h1, #Blog2 h1 { font-size:1.5em; }
6.Menambah kode rel=canonical
Gunanya kita menambahkan ‘rel=canonical’ adalah untuk menghindari konten ganda, karena seperti para Master of SEO bilang bahwa Google sangat tidak dapat mentolerir sebuah duplicate content. Caranya mudah, cukup klik Edit HTML, lalu Anda tambahkan kode berikut setelah kode
Save template dan selesai.
7.Pasang meta keyword disetiap postingan
selain meta deskripsi keyword anda juga wajib pasang meta keyword di setiap postingan ,iniberguna untuk mengoptimalkan seo pada semua postingan yang teklah anda buat,dan juga dengan ini artikel akan lebih mudah di indeks search engine terutama om google,
caranya panjang juga bung,saya pisahkan juga dalam sebuah atrikel dan anda bisa lihat di kategori tutorial blogger / bisa di Related Posts di bawah artikel ini.
8.Pasang plugim seo smart link
sebelumnya plugin seo smartt link hanya bisa dipasang di blog wordpress saja,tapi sekarang bisa dipassang di blogspot setelah sang master membuatnya ,cara pasangnya jelas panjang ,dan jelas saya pisahkan dalam sebuah artikel , dan jelas juga anda bisa lihat
di kategori tutorial blogger / bisa di Related Posts di bawah artikel ini.
demikian postingan Cara Edit template blog Agar SEO friendly semoga bermanfaat dan blognya lebih seo friendly ya :) wkwkwkw
sumber : .blogtrik
Jumat, 30 Desember 2011
pendidikan
Berikut adalah ketiga kebutuhan emosional anak:
1. Kebutuhan untuk merasa AMAN
Salah satu kebutuhan terkuat yang dibutuhkan soerang anak adalah perasaan aman. Aman didalam diri dan lingkungannya. Remaja mencari rasa aman dengan bergabung dengan sekelompok “geng” atau sekumpulan teman sebaya mereka, terlibat aturan sosial diantara mereka, serta meniru perilaku temannya.
Seorang psikolog Dr. Gary Chapman, dalam bukunya “lima bahasa cinta” mengatakan kita semua memiliki tangki cinta psikologis yang harus diisi, lebih tepatnya jika anak maka orangtuanya yang sebaiknya mengisi. Anak yang tangki cintanya penuh maka dia akan suka pada dirinya sendiri, tenang dan merasa aman. Hal ini dapat diartikan sebagai anak yang berbahagia dan memiliki “inner” motivasi.
Perlukah kita mempelajari dan mengetahui tangki cinta? Sangat perlu, saya seringkali merekomendasi para guru dan orangtua untuk mempelajari dan menemukan bahasa cinta anak mereka, dirinya dan pasangannya. Hal ini akan saya bahas pada artikel berikutnya).
Contoh, terdorong oleh rasa cinta kepada anaknya seorang ibu memarahi anaknya yang sedang bermain computer. “berhenti maen computer dan belajar sekarang” lalu apa yang ada dibenak anak? Mungkin “Hmpf… Ibu tidak sayang padaku, dan ingin mengendalikan aku serta keasyikanku” Nah, anak menerimanya sebagai hal yang negatif, komunikasi yang menghancurkan rasa cinta ini biasanya yang menjadi akar permasalahan orangtua dan anak, serta guru.
1. Kebutuhan untuk merasa AMAN
Salah satu kebutuhan terkuat yang dibutuhkan soerang anak adalah perasaan aman. Aman didalam diri dan lingkungannya. Remaja mencari rasa aman dengan bergabung dengan sekelompok “geng” atau sekumpulan teman sebaya mereka, terlibat aturan sosial diantara mereka, serta meniru perilaku temannya.
Seorang psikolog Dr. Gary Chapman, dalam bukunya “lima bahasa cinta” mengatakan kita semua memiliki tangki cinta psikologis yang harus diisi, lebih tepatnya jika anak maka orangtuanya yang sebaiknya mengisi. Anak yang tangki cintanya penuh maka dia akan suka pada dirinya sendiri, tenang dan merasa aman. Hal ini dapat diartikan sebagai anak yang berbahagia dan memiliki “inner” motivasi.
Perlukah kita mempelajari dan mengetahui tangki cinta? Sangat perlu, saya seringkali merekomendasi para guru dan orangtua untuk mempelajari dan menemukan bahasa cinta anak mereka, dirinya dan pasangannya. Hal ini akan saya bahas pada artikel berikutnya).
Contoh, terdorong oleh rasa cinta kepada anaknya seorang ibu memarahi anaknya yang sedang bermain computer. “berhenti maen computer dan belajar sekarang” lalu apa yang ada dibenak anak? Mungkin “Hmpf… Ibu tidak sayang padaku, dan ingin mengendalikan aku serta keasyikanku” Nah, anak menerimanya sebagai hal yang negatif, komunikasi yang menghancurkan rasa cinta ini biasanya yang menjadi akar permasalahan orangtua dan anak, serta guru.
Minggu, 25 Desember 2011
Fenomena Pendidikan
Homeschooling atau sekolah rumah sekarang kerap menjadi bahan perbincangan hangat disekitar kita. Ada yang karena sibuk, alas an ini berlaku bagi anak-anak yang bekerja seperti artis, seniman, karateka, dan lainnya. Ada yang karena alas an bullying, tidak mendapat lingkungan social yang baik, jenih dan alas an alas an lainnya. Namun apakah homeschooling ini berdampak cukup baik bagi psikologis seorang anak? Apakah cukup baik bagi perkembangan pendidikan kita?
Dari sumber yang ada, diberitakan seorang anak bernama Gagah mengalami ketidaknyamanan dengan sekolah formalnya. Ia berpindah ke homeschooling dan hasilnya memang lebih baik. Menurut orang tuanya kini Gagah lebih ceria dan kreatif, berani dan inovatif. Kedua orangtua Gagah kini sungguh mendukung pelaksanaan home schooling.
Dipandang dari psikologi pendidikan, homeschooling berdasar pada learner centered dan paham konstruktivisme. Dimana di homeschooling anak bebas menentukan mata pelajaran, mereka anak searching dan ini sudah bermain dengan e-learning. Diawasi oleh para tentor, mereka akan mencari dan mendapatkan informasi yang banyak dan lebih intense daripada anak sekolah formal. Mereka ujian dan ulangan lewat internet. Paham konstruktivisme dapat dilihat dari bagaimana anak yang dibuat menjadi aktif dan terarah. Kondtruktif artinya bersifat membangun, dengan keadaan serba sendiri anak akan membiasakan diri untuk belajar lebih mandiri dan membagun potensi yang ada selama ini yang kiranya tidak dapat tersalurkan secara maksimal disekolah formal.
Dari psikologi keluarga mungkin kurang baik karena anak tidak biasa mengahadapi banyak kejadian layaknya anak yang bersekolah formal. Anak anak homeschooling rata-rata akan menjadi lebih tergantung pada keluarga mereka karena keluarga adalah lingkungan social yang setiap saat ia temui. Anak juga akan kurang matang berhadapan dengan keluarga lain yang jauh karena ia kurang besosialisasi. Walaupun di homeschooling memang ada pertemuan sesekali , namun itu tidak mencukupi tugas perkembangan mereka untuk beradaptasi dan mengenal banyak karakter. Dari pamdangan lain, dukungan keluarga sangat mampu mensupport mereka yang mengalami traumatis disekolah formal. Dengan dukungan kelularga untuk homeschooling ini kepercayaan diri anak akan bangkit lagi , seperti cerita si Gagah.
Dari psikologi bimbingan sekolah teori asimilasi untuk informasi homeschooling yang masuk ,ini bisa digunakan. Orang tua Gagah mendapatkan informasi itu dan mencoba menyeimbangkannya dengan kehidupan si Gagah. Ternyata memang cocok homeschooling ini bisa mengurangi rasa ketidaknyamanan anaknya yang hadir setiap ia bersekolah formal.
Obsesi Jadi Juara Kelas
http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/agar-anak-menjadi-juara/
Kalau dilihat dari sudut pandang psikologi pendidikan, anak ini memiliki motivasi yang tinggi. Motivasi merupakan suatu dorongan internal dalam diri yang mempengaruhi anak untuk berpikir, merasa dan bertindak. Ketekunan dalam diri anak membuat dia sangat antusias untuk menjadi sang juara. Dia juga memiliki motivasi internal. Dia ingin menjadi juara kelas karena memang dia ingin, bukan karena ada reward yang ia akan dapatkan ketika dia benar-benar mendapatkan tujuannya.
Dari pandangan pendidikan keluarga pun dia sangat beruntung. Ibunya seorang guru dan ayahnya seorang yang juga berpendidikan baik. Hal itu membuat proses pencapaian tujuannya semakin lancar. Dari psikologi keluarga ini merupakan hal yang sangat baik. Dia diberi disiplin yang benar-benar ia ikuti sehingga dapat mencapai obsesinya.
Bimbingan belajar dalam keluarga pun sangat berpengaruh. Dia didukung oleh cara didik kombinasi dari kedua orangtuanya. Diberi jadwal belajar yang sangat baik sehingga memudahkan proses belajarnya, walaupun sebenarnya memang dasar motivasinya yang baik. Bimbingan sekolahnya pun juga akan sangat berpengaruh. Di sekolah dia keinginan kuatnya ditangkap oleh sang guru yang juga sangat mendukungnya. Sampai-sampai dia dijadikan perwakilan sekolah untuk olimoiade sains. Itu akan meningkatkan keinginannya apalagi adanya suatu apresiasi yang sebenarnya tidak terlalu dipedulikannya karena sudah adanya motivasi internal tadi.
Murid ‘Menamai’ Guru
http://www.gadis.co.id/gaul/ngobrol/dosa.sama.guru/001/007/388
Dari psikologi pendidikan, sebenarnya hal yang paling mendasari anak 'menamai' gurunya adalah karena cara mengajar guru yang kurang berkenan, masalah pribadi dengan guru, juga bisa karena saking senangnya pada si guru. Julukan ini bisa saja dengan berbagai macam, ada yang baik ada pula yang jelek. Tergantung apa alasan ataupun imej yang selama ini melekat pada gurunya.Misalnya dia anak kesayangna gurunya, dia juluki gurunya Ibu sayang atau Bapak sayang, misalnya gurunya kejam dia panggil Nenek sihir. Bukankah ini suatu fenomena yang sering kita temui di lingkungan sekolah. Hampir tiap guru di sekolah ataupun dosen di kampus pasti punya 'nama cantik' nya masing-masing.
Psikologi pendidikan keluarga melihat ini sebagai kegagalan keluarga mendidik anak untuk lebih menghargai orang-orang sekitar. Guru mungkin pada awalnya tidak tahu mengenai hal ini, namun sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai pasti akan tercium jua. Guru pasti akan mengetahui dan mengadu ke orangtua ataupun sebagainya.Ujung-ujungnya pasti berimbas ke keluarga juga bukan. Dibilanglah orangtuanya yang tidak becus mendidik anak, dibilang orangtuanya tidak memperhatikan anak, dan lain sebagianya.
Dari sudut psikologi bimbingan belajarnya sendiri, sebenarnya anak harus sering dibimbing di sekolah. Ada Bimbingan Konseling di sekolah yang sangat berguna untuk murid. Murid diarahkan untuk mengarahkan emosi dengan cara yang baik selain dengan 'menamai' guru nya. Walaupun nama yang diberi masih bagus-bagus saja seperti Ibu Cantik, dan lain-lain. Tapi tetap saja nama dari orangtua adalah nama yang paling baik untuk kita bukan?
Pendidikan Anak Indigo
http://riantipuspaandita.wordpress.com/2010/05/04/contoh-kasus-anak-indigo/
Anak Indigo adalah anak yang unik. Anak indigo juga biasanya disebuut dengan anak ungu,indigo jugalah sebutan untuk warna ungubiru. Anak-anak Indigo sebagai generasi yang dilahirkan saat ini, sebagian besar berumur 12 tahun atau lebih muda. Mereka berbeda. Mereka memiliki karakteristik yang sangat unik yang membuat mereka terlihat berbeda dari generasi anak-anak yang lain. Indigo sebagai sebuah sebutan menunjukkan warna aura yang mereka bawa, yang mengindikasikan adanya chakra “Mata Ketiga”, yang menunjukkan kemampuan Psychic dan ketajaman intuisi.Mereka adalah anak-anak yang umumnya tidak mudah diatur oleh kekuasaan, tidak mudah berkompromi, emosional dan beberapa diantaranya memiliki tubuh rentan, sangat berbakat atau berkemampuan akademis baik dan mempunyai kemampuan metafisis. Anak indigo ini memiliki sensitifitas yang sangat tinggi.
Anak indigo sering sekali dikatakan “anak aneh” padahal pada kenyataannya adalah mereka mempunyai sesuatu yang lebih dari anak-anak lain. Atau bahkan ada yang mengira anak indigo anak yang mempunyai roh-roh halus didalamnya padahal pada kenyataannya anak indigo mempunyai spiritualitas yg tinngi bukan berhubungan langsung dengan roh-roh halus. Bahkan ada yang mengira ini adalah sebuah penyakit.
Pendidikan yang seharusnya didapati anak indigo jika dilihat dari psikologi pendidikan adalah pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Seperti yang tertulis di atas bahwa anak indigo adalah sesosok anak yang unik. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan anak lain ini, jelas memerlukan peran pendidikan yang khusus pula. Misalnya dia lancer berbahasa Inggris dengan logat yang kental padahal dia tidak dibesarkan di lingkungan itu. Nah, jadi walaupun dia berkelebihan dalam bidang itu bukan berarti dia tidak harus sekolah, dia harus tetap sekolah karena anak itu masih dalam tahap berkembang. Peran orangtuapun cukup penting dalam hal ini. Anak- anak seperti ini tidak sedikit yang berkesusahan dalam beradaptasi dalam lingkungan. Banyak anak berbakat yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan sekolah sehingga mereka dikatakan bermasalah seperti terkena Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder) atau autisme.
Dalam psikologi pendidikan di pendidikan anak berkebutuhan khususlah anak indigo ini seharusnya ditempatkan karena anak indigo adalah anak yang “khusus” jadi pendidikan dan cara penyampaian pendidikannya harus tepat agar anak indigo merasa jauh lebih baik dan juga peran orangtua dalam mendidik serta penyesuaian diri di dalam lingkungannya sehari-hari.
Dari sumber yang ada, diberitakan seorang anak bernama Gagah mengalami ketidaknyamanan dengan sekolah formalnya. Ia berpindah ke homeschooling dan hasilnya memang lebih baik. Menurut orang tuanya kini Gagah lebih ceria dan kreatif, berani dan inovatif. Kedua orangtua Gagah kini sungguh mendukung pelaksanaan home schooling.
Dipandang dari psikologi pendidikan, homeschooling berdasar pada learner centered dan paham konstruktivisme. Dimana di homeschooling anak bebas menentukan mata pelajaran, mereka anak searching dan ini sudah bermain dengan e-learning. Diawasi oleh para tentor, mereka akan mencari dan mendapatkan informasi yang banyak dan lebih intense daripada anak sekolah formal. Mereka ujian dan ulangan lewat internet. Paham konstruktivisme dapat dilihat dari bagaimana anak yang dibuat menjadi aktif dan terarah. Kondtruktif artinya bersifat membangun, dengan keadaan serba sendiri anak akan membiasakan diri untuk belajar lebih mandiri dan membagun potensi yang ada selama ini yang kiranya tidak dapat tersalurkan secara maksimal disekolah formal.
Dari psikologi keluarga mungkin kurang baik karena anak tidak biasa mengahadapi banyak kejadian layaknya anak yang bersekolah formal. Anak anak homeschooling rata-rata akan menjadi lebih tergantung pada keluarga mereka karena keluarga adalah lingkungan social yang setiap saat ia temui. Anak juga akan kurang matang berhadapan dengan keluarga lain yang jauh karena ia kurang besosialisasi. Walaupun di homeschooling memang ada pertemuan sesekali , namun itu tidak mencukupi tugas perkembangan mereka untuk beradaptasi dan mengenal banyak karakter. Dari pamdangan lain, dukungan keluarga sangat mampu mensupport mereka yang mengalami traumatis disekolah formal. Dengan dukungan kelularga untuk homeschooling ini kepercayaan diri anak akan bangkit lagi , seperti cerita si Gagah.
Dari psikologi bimbingan sekolah teori asimilasi untuk informasi homeschooling yang masuk ,ini bisa digunakan. Orang tua Gagah mendapatkan informasi itu dan mencoba menyeimbangkannya dengan kehidupan si Gagah. Ternyata memang cocok homeschooling ini bisa mengurangi rasa ketidaknyamanan anaknya yang hadir setiap ia bersekolah formal.
Obsesi Jadi Juara Kelas
http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/agar-anak-menjadi-juara/
Kalau dilihat dari sudut pandang psikologi pendidikan, anak ini memiliki motivasi yang tinggi. Motivasi merupakan suatu dorongan internal dalam diri yang mempengaruhi anak untuk berpikir, merasa dan bertindak. Ketekunan dalam diri anak membuat dia sangat antusias untuk menjadi sang juara. Dia juga memiliki motivasi internal. Dia ingin menjadi juara kelas karena memang dia ingin, bukan karena ada reward yang ia akan dapatkan ketika dia benar-benar mendapatkan tujuannya.
Dari pandangan pendidikan keluarga pun dia sangat beruntung. Ibunya seorang guru dan ayahnya seorang yang juga berpendidikan baik. Hal itu membuat proses pencapaian tujuannya semakin lancar. Dari psikologi keluarga ini merupakan hal yang sangat baik. Dia diberi disiplin yang benar-benar ia ikuti sehingga dapat mencapai obsesinya.
Bimbingan belajar dalam keluarga pun sangat berpengaruh. Dia didukung oleh cara didik kombinasi dari kedua orangtuanya. Diberi jadwal belajar yang sangat baik sehingga memudahkan proses belajarnya, walaupun sebenarnya memang dasar motivasinya yang baik. Bimbingan sekolahnya pun juga akan sangat berpengaruh. Di sekolah dia keinginan kuatnya ditangkap oleh sang guru yang juga sangat mendukungnya. Sampai-sampai dia dijadikan perwakilan sekolah untuk olimoiade sains. Itu akan meningkatkan keinginannya apalagi adanya suatu apresiasi yang sebenarnya tidak terlalu dipedulikannya karena sudah adanya motivasi internal tadi.
Murid ‘Menamai’ Guru
http://www.gadis.co.id/gaul/ngobrol/dosa.sama.guru/001/007/388
Dari psikologi pendidikan, sebenarnya hal yang paling mendasari anak 'menamai' gurunya adalah karena cara mengajar guru yang kurang berkenan, masalah pribadi dengan guru, juga bisa karena saking senangnya pada si guru. Julukan ini bisa saja dengan berbagai macam, ada yang baik ada pula yang jelek. Tergantung apa alasan ataupun imej yang selama ini melekat pada gurunya.Misalnya dia anak kesayangna gurunya, dia juluki gurunya Ibu sayang atau Bapak sayang, misalnya gurunya kejam dia panggil Nenek sihir. Bukankah ini suatu fenomena yang sering kita temui di lingkungan sekolah. Hampir tiap guru di sekolah ataupun dosen di kampus pasti punya 'nama cantik' nya masing-masing.
Psikologi pendidikan keluarga melihat ini sebagai kegagalan keluarga mendidik anak untuk lebih menghargai orang-orang sekitar. Guru mungkin pada awalnya tidak tahu mengenai hal ini, namun sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai pasti akan tercium jua. Guru pasti akan mengetahui dan mengadu ke orangtua ataupun sebagainya.Ujung-ujungnya pasti berimbas ke keluarga juga bukan. Dibilanglah orangtuanya yang tidak becus mendidik anak, dibilang orangtuanya tidak memperhatikan anak, dan lain sebagianya.
Dari sudut psikologi bimbingan belajarnya sendiri, sebenarnya anak harus sering dibimbing di sekolah. Ada Bimbingan Konseling di sekolah yang sangat berguna untuk murid. Murid diarahkan untuk mengarahkan emosi dengan cara yang baik selain dengan 'menamai' guru nya. Walaupun nama yang diberi masih bagus-bagus saja seperti Ibu Cantik, dan lain-lain. Tapi tetap saja nama dari orangtua adalah nama yang paling baik untuk kita bukan?
Pendidikan Anak Indigo
http://riantipuspaandita.wordpress.com/2010/05/04/contoh-kasus-anak-indigo/
Anak Indigo adalah anak yang unik. Anak indigo juga biasanya disebuut dengan anak ungu,indigo jugalah sebutan untuk warna ungubiru. Anak-anak Indigo sebagai generasi yang dilahirkan saat ini, sebagian besar berumur 12 tahun atau lebih muda. Mereka berbeda. Mereka memiliki karakteristik yang sangat unik yang membuat mereka terlihat berbeda dari generasi anak-anak yang lain. Indigo sebagai sebuah sebutan menunjukkan warna aura yang mereka bawa, yang mengindikasikan adanya chakra “Mata Ketiga”, yang menunjukkan kemampuan Psychic dan ketajaman intuisi.Mereka adalah anak-anak yang umumnya tidak mudah diatur oleh kekuasaan, tidak mudah berkompromi, emosional dan beberapa diantaranya memiliki tubuh rentan, sangat berbakat atau berkemampuan akademis baik dan mempunyai kemampuan metafisis. Anak indigo ini memiliki sensitifitas yang sangat tinggi.
Anak indigo sering sekali dikatakan “anak aneh” padahal pada kenyataannya adalah mereka mempunyai sesuatu yang lebih dari anak-anak lain. Atau bahkan ada yang mengira anak indigo anak yang mempunyai roh-roh halus didalamnya padahal pada kenyataannya anak indigo mempunyai spiritualitas yg tinngi bukan berhubungan langsung dengan roh-roh halus. Bahkan ada yang mengira ini adalah sebuah penyakit.
Pendidikan yang seharusnya didapati anak indigo jika dilihat dari psikologi pendidikan adalah pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. Seperti yang tertulis di atas bahwa anak indigo adalah sesosok anak yang unik. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan anak lain ini, jelas memerlukan peran pendidikan yang khusus pula. Misalnya dia lancer berbahasa Inggris dengan logat yang kental padahal dia tidak dibesarkan di lingkungan itu. Nah, jadi walaupun dia berkelebihan dalam bidang itu bukan berarti dia tidak harus sekolah, dia harus tetap sekolah karena anak itu masih dalam tahap berkembang. Peran orangtuapun cukup penting dalam hal ini. Anak- anak seperti ini tidak sedikit yang berkesusahan dalam beradaptasi dalam lingkungan. Banyak anak berbakat yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan sekolah sehingga mereka dikatakan bermasalah seperti terkena Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder) atau autisme.
Dalam psikologi pendidikan di pendidikan anak berkebutuhan khususlah anak indigo ini seharusnya ditempatkan karena anak indigo adalah anak yang “khusus” jadi pendidikan dan cara penyampaian pendidikannya harus tepat agar anak indigo merasa jauh lebih baik dan juga peran orangtua dalam mendidik serta penyesuaian diri di dalam lingkungannya sehari-hari.
Apa Itu Pendidikan Anak Usia Dini?
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Jenis PAUD di Indonesia
Dibanding dengang perkembangan model dan jenis PAUD di berbagai negara maju dan berkembang lainnya, PAUD di Indonesia memiliki keunikan khusus yang agak berbeda dengan di luar negeri. Karena di luar neger PAUD pada umumnya hanya dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu Kindergarden atau Play Group dan Day Care, sedang di Indonesia menjadi 4 (empat) macam yaitu :
Taman Kanak-Kanak (Kindergarten)
Kelompok Bermain (Play Group)
Taman Penitipan Anak (Day Care)
PAUD sejenis (Similar with Play Group)
Sistem Penyelenggaraan PAUD
Penyelenggaraan PAUD di negara lain semata-mata hanya menstimulasi kecerdasan anak secara komprehensif dan pengasuhan terhadap anak, karena aspek kecerdasan yang dikembangkan hanya meliputi kecerdasan intelektual, emosional, estetika, dan social serta pengasuhan. Sedang di Indonesia potensi kecerdasan tersebut diberikan juga pendidikan untuk mengembangkan potensi kecerdasan spiritual yang dilaksanakan melalui pendekatan olah pikir, olah rasa, dan olah raga. Di samping itu, juga diberikan pengetahuan dan pembinaan terhadap kondisi kesehatan dan gizi peserta didik. Oleh karena itu, penyelenggaraan PAUD di Indonesia disebut penyelenggaran PAUD secara “Holistik dan Integratif”
Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini
§ Infant (0-1 tahun)
§ Toddler (2-3 tahun)
§ Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
§ Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_anak_usia_dini
Jenis PAUD di Indonesia
Dibanding dengang perkembangan model dan jenis PAUD di berbagai negara maju dan berkembang lainnya, PAUD di Indonesia memiliki keunikan khusus yang agak berbeda dengan di luar negeri. Karena di luar neger PAUD pada umumnya hanya dibedakan menjadi 2 (dua) macam yaitu Kindergarden atau Play Group dan Day Care, sedang di Indonesia menjadi 4 (empat) macam yaitu :
Taman Kanak-Kanak (Kindergarten)
Kelompok Bermain (Play Group)
Taman Penitipan Anak (Day Care)
PAUD sejenis (Similar with Play Group)
Sistem Penyelenggaraan PAUD
Penyelenggaraan PAUD di negara lain semata-mata hanya menstimulasi kecerdasan anak secara komprehensif dan pengasuhan terhadap anak, karena aspek kecerdasan yang dikembangkan hanya meliputi kecerdasan intelektual, emosional, estetika, dan social serta pengasuhan. Sedang di Indonesia potensi kecerdasan tersebut diberikan juga pendidikan untuk mengembangkan potensi kecerdasan spiritual yang dilaksanakan melalui pendekatan olah pikir, olah rasa, dan olah raga. Di samping itu, juga diberikan pengetahuan dan pembinaan terhadap kondisi kesehatan dan gizi peserta didik. Oleh karena itu, penyelenggaraan PAUD di Indonesia disebut penyelenggaran PAUD secara “Holistik dan Integratif”
Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini
§ Infant (0-1 tahun)
§ Toddler (2-3 tahun)
§ Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
§ Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)
http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_anak_usia_dini
Mengapa Pendidikan Anak Usia Dini Penting?
Pendidikan anak usia dini (PAUD) yang baik dan tepat dibutuhkan anak untuk menghadapi masa depan, begitulah pesan yang disampaikan Profesor Sandralyn Byrnes, Australia's & International Teacher of the Year saat seminar kecil di acara Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011 lalu.
Menurut Byrnes, PAUD akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. "Saat ini, beberapa taman kanak-kanak sudah meminta anak murid yang mau mendaftar di sana sudah bisa membaca dan berhitung. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi dan problem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini," jelas Byrnes.
Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. "Tentunya di usia dini, mereka akan belajar pondasi-pondasinya. Mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui, yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain, tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa belajar banyak; cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa."
Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk dan tertanam. "Tentunya cara bermain pun tidak bisa asal, harus yang diarahkan dan ini butuh tenaga yang memiliki kemampuan dan cara mengajarkan yang tepat. Kelas harusnya berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran. Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru. Seharusnya terbangun sikap anak yang semangat untuk belajar," jelas Byrnes.
Contoh, bermain peran sebagai pemadam kebakaran, anak tidak akan mendapat apa-apa jika ia hanya disuruh mengenakan busana dan berlarian membawa selang. Tetapi, guru yang mengerti harus bisa mengajak anak menggunakan otaknya saat si anak berperan sebagai pemadam kebakaran, "Apa yang digunakan oleh pemadam kebakaran, Nak? Bagaimana suara truk pemadam kebakaran yang benar? Apa yang dilakukan pemadam kebakaran? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan ditanyakan untuk memancing daya pikir si anak," contoh Byrnes.
Selama 7 tahun meneliti pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes juga menemukan sebagian orangtua memiliki konsep bahwa anak-anak di usia itu sudah bisa berpikir. "Anak-anak usia dini belum bisa berpikir dengan sempurna seperti orang dewasa. Anak-anak usia tersebut harus dipandu cara berpikir secara besar, cara mencerna, dan berdaya nalar. Sayangnya, beberapa lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia belum mengajarkan mengenai multiple intelligences. Ini kembali ke perkembangan latar belakang ahli didiknya," ungkap Byrnes.
Apa perbedaan anak-anak yang belajar di lembaga pendidikan usia dini berkualitas dengan anak-anak yang tidak belajar? "Di lembaga pendidikan anak usia dini yang bagus, anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, bisa mengambil ide, mengembangkan ide, pergi ke sekolah lain dan siap belajar, cepat beradaptasi, dan semangat untuk belajar. Sementara, anak yang tidak mendapat pendidikan cukup di usia dini, akan lamban menerima sesuatu," terang Byrnes yang pernah mendapat gelar Woman of the Year dari Vitasoy di Australia. "Anak yang tidak mendapat pendidikan usia dini yang tepat, akan seperti mobil yang tidak bensinnya tiris. Anak-anak yang berpendidikan usia dini tepat memiliki bensin penuh, mesinnya akan langsung jalan begitu ia ada di tempat baru. Sementara anak yang tidak berpendidikan usia dini akan kesulitan memulai mesinnya, jadi lamban. Menurut saya, pendidikan anak sudah bisa dimulai sejak ia 18 bulan," tutup Byrnes.
Share
156
Menurut Byrnes, PAUD akan memberikan persiapan anak menghadapi masa-masa ke depannya, yang paling dekat adalah menghadapi masa sekolah. "Saat ini, beberapa taman kanak-kanak sudah meminta anak murid yang mau mendaftar di sana sudah bisa membaca dan berhitung. Di masa TK pun sudah mulai diajarkan kemampuan bersosialisasi dan problem solving. Karena kemampuan-kemampuan itu sudah bisa dibentuk sejak usia dini," jelas Byrnes.
Di lembaga pendidikan anak usia dini, anak-anak sudah diajarkan dasar-dasar cara belajar. "Tentunya di usia dini, mereka akan belajar pondasi-pondasinya. Mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui, yakni lewat bermain. Tetapi bukan sekadar bermain, tetapi bermain yang diarahkan. Lewat bermain yang diarahkan, mereka bisa belajar banyak; cara bersosialisasi, problem solving, negosiasi, manajemen waktu, resolusi konflik, berada dalam grup besar/kecil, kewajiban sosial, serta 1-3 bahasa."
Karena lewat bermain, anak tidak merasa dipaksa untuk belajar. Saat bermain, otak anak berada dalam keadaan yang tenang. Saat tenang itu, pendidikan pun bisa masuk dan tertanam. "Tentunya cara bermain pun tidak bisa asal, harus yang diarahkan dan ini butuh tenaga yang memiliki kemampuan dan cara mengajarkan yang tepat. Kelas harusnya berisi kesenangan, antusiasme, dan rasa penasaran. Bukan menjadi ajang tarik-ulur kekuatan antara murid-guru. Seharusnya terbangun sikap anak yang semangat untuk belajar," jelas Byrnes.
Contoh, bermain peran sebagai pemadam kebakaran, anak tidak akan mendapat apa-apa jika ia hanya disuruh mengenakan busana dan berlarian membawa selang. Tetapi, guru yang mengerti harus bisa mengajak anak menggunakan otaknya saat si anak berperan sebagai pemadam kebakaran, "Apa yang digunakan oleh pemadam kebakaran, Nak? Bagaimana suara truk pemadam kebakaran yang benar? Apa yang dilakukan pemadam kebakaran? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu akan ditanyakan untuk memancing daya pikir si anak," contoh Byrnes.
Selama 7 tahun meneliti pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes juga menemukan sebagian orangtua memiliki konsep bahwa anak-anak di usia itu sudah bisa berpikir. "Anak-anak usia dini belum bisa berpikir dengan sempurna seperti orang dewasa. Anak-anak usia tersebut harus dipandu cara berpikir secara besar, cara mencerna, dan berdaya nalar. Sayangnya, beberapa lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia belum mengajarkan mengenai multiple intelligences. Ini kembali ke perkembangan latar belakang ahli didiknya," ungkap Byrnes.
Apa perbedaan anak-anak yang belajar di lembaga pendidikan usia dini berkualitas dengan anak-anak yang tidak belajar? "Di lembaga pendidikan anak usia dini yang bagus, anak-anak akan belajar menjadi pribadi yang mandiri, kuat bersosialisasi, percaya diri, punya rasa ingin tahu yang besar, bisa mengambil ide, mengembangkan ide, pergi ke sekolah lain dan siap belajar, cepat beradaptasi, dan semangat untuk belajar. Sementara, anak yang tidak mendapat pendidikan cukup di usia dini, akan lamban menerima sesuatu," terang Byrnes yang pernah mendapat gelar Woman of the Year dari Vitasoy di Australia. "Anak yang tidak mendapat pendidikan usia dini yang tepat, akan seperti mobil yang tidak bensinnya tiris. Anak-anak yang berpendidikan usia dini tepat memiliki bensin penuh, mesinnya akan langsung jalan begitu ia ada di tempat baru. Sementara anak yang tidak berpendidikan usia dini akan kesulitan memulai mesinnya, jadi lamban. Menurut saya, pendidikan anak sudah bisa dimulai sejak ia 18 bulan," tutup Byrnes.
Share
156
Jumat, 23 Desember 2011
Pendidikan Anak Usia Dini
ketika pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan maka orang-orang akan mencari pendidikan itu. meskipun orang tua tidak mengiginkan anaknya dalam keadaan tidak berpendidikan dan merupakan kebutuhan dalam kehidupan
Langganan:
Postingan (Atom)